Senin, 24 Mei 2010

Merasa diri hebat seringkali menjadikan seseorang mengabaikan hal yang semestinya dilakukan (Wayne Huizenga)

Salah satu penyakit yang membahayakan bagi kita semua adalah kesombongan, karena hal ini membuat diri kita menjadi yang paling hebat, paling pintar, paling tahu, dan lain-lain. Akibatnya kita tidak mau memperhatikan masukan atau pendapat orang lain, selain itu kesombongan juga membuat kita meremehkan orang lain dan berbagai hal lain.

Nah sekarang mari kita lihat, salah satu bentuk kesombongan, yaitu merasa (paling) hebat. Bila kita merasa hebat, maka semuanya kita pandang rendah dan tidak ada nilainya lagi. Hal ini membuat kita tidak melakukan persiapan sebagaimana mestinya, dan ternyata pada saatnya … kita menyesal, karena gagal melakukan hal tersebut.

Misalnya bila seorang juara menganggap rendah lawannya, yang memang ranking dan kemampuannya jauh di bawah dirinya, maka ia tidak melakukan persiapan secara optimal. Ternyata pada saat pertandingan ia kaget sendiri karena kok sulit sekali mengalahkan lawannya. Apakah lawannya lebih hebat? Mungkin secara kenyataan tidak terlalu hebat, tetapi yang jelas ia tidak mengasah kemampuannya sendiri secara optimal, hasilnya hanya penyesalan yang diperoleh …. dan semua itu sudah terlambat.

Jadi marilah kita selalu merendahkan diri, karena di atas langit masih ada langit. Yang perlu kita lakukan adalah selalu mempersiapkan diri dengan baik, terus belajar untuk meningkatkan diri, serta tidak lupa untuk berserah diri kepada Tuhan yang maha kuasa.
Karakter seseorang dapat diketahui dari orang-orang seperti apa yang dihormati atau dicintainya (pepatah suku Creole).

Lingkungan memberikan pengaruh besar pada karakter seseorang; seseorang yang tinggal di lingkungan yang biasa berkata kasar, maka ia pun akan terbiasa berkata-kata kasar, sedangkan bila ia tinggal di lingkungan yang sopan, maka ia pun memiliki karakter yang baik dan sopan. Setelah karakter terbentuk pada diri seseorang, maka selanjutnya ia akan merasa cocok dengan orang yang memiliki karakter yang mirip dengannya, karena merasa memiliki kesamaan.

Bila kita lihat seseorang yang mengidolakan mantan Presiden Soekarno, maka jelas ia memiliki prinsip nasionalisme yang kuat seperti yang dimiliki oleh idolanya. Demikian juga bila seorang anak mengidolakan pemain sepak bola seperti Ronaldo atau Messi, nah … pasti mereka akan meniru idolanya atau memiliki cita-cita untuk menjadi pemain bola yang hebat seperti idolanya tersebut.

Dari sisi lain, ada prinsip ‘kita akan menjadi seperti yang kita pikirkan”, sehingga bila kita memikirkan idola kita, entah olahragawan, pemain musik, negarawan atau yang lainnya, maka kita mempelajari dan berusaha untuk mengenalinya secara lebih mendalam dengan tujuan agar diri kita menjadi seperti sang idola tersebut.

Jadi untuk membentuk karakter positif dalam diri kita, marilah kita cari satu sosok idola positif yang luar biasa, sehingga dapat menginspirasi dan membentuk karakter kita menjadi seperti dia.
Manusia tidak tersandung oleh batu sebesar lemari, tetapi jatuh karena batu kerikil. Jadi untuk meraih sukses, perhatikan hal-hal kecil.

Sesuatu yang besar dan kelihatan jelas, membuat kita melakukan persiapan yang matang sebelum menghadapinya. Tetapi hal-hal kecil seringkali membuat kita lupa dan mengabaikannya, padahal hal ini lah yang dapat membuat kita jatuh.

Dalam bidang olahraga, bila kita menghadapi lawan yang lebih kuat maka jelas kita membuat persiapan yang matang agar dapat mengalahkannya. Bila menang kita membuat prestasi yang luar biasa, tetapi bila kalah pun orang lain akan memakluminya karena dia lebih kuat dari kita. Tetapi saat menghadapi lawan yang lebih lemah atau peringkatnya jauh di bawah, kita sering memandang sebelah mata dan mengabaikannya; hal inilah yang membuat kita kalah terhadap dia, sehingga orang lain mencela kita karena kalah dari lawan yang lebih lemah.

Untuk mengatasinya kita perlu memperhatikan semua faktor, tidak boleh ada yang dianggap remeh, dan melakukan persiapan semaksimal mungkin. Hal inilah yang menjadi kunci kesuksesan kita.

Di sisi lain, manusia juga sering jatuh karena melakukan dosa-dosa yang kecil, misalnya melakukan korupsi waktu atau membawa peralatan kantor ke rumah. Tetapi bila hal ini dilakukan terus meneru maka kita menjadi terbiasa, dan akan terjerumus untuk melakukan dosa yang lebih besar – apalagi si setan pun tak henti-hentinya memprovokasi diri kita. Karena itu jauhilah semua dosa, sekecil apa pun itu, dan kita perlu untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan melalui doa dan membaca FirmanNya. Amin!
Tuhan maha kuasa, tidak ada yang mustahil bagiNya!
Tetapi ada satu yang tidak sanggup Dia lakukan, yaitu “DIA TIDAK SANGGUP BERHENTI UNTUK MENGASIHI KITA!”

Sebagai manusia beriman, kita telah mengetahui bahwa Tuhan adalah segala-galanya; Tuhan maha kuasa, karena bagi Dia tidak ada yang mustahil. Manusia yang berdosa besar, dapat Dia pulihkan, asal mau menyerahkan diri kepadaNya dan bertobat. Yang sakit disembuhkanNya, yang buta dibuat melihat, bahkan yang mati pun dibangkitkanNya.

Tetapi karena kasihNya yang besar, ada satu hal yang tidak dapat Tuhan lakukan, yaitu “Dia tidak sanggup berhenti untuk mengasihi kita!”. Tuhan selalu mengasihi manusia, bahkan selagi manusia masih berdosa; Dia ingin memulihkan hubungan dan bersatu dengan manusia, tetapi kita sebagai manusia yang sering menolak ajakanNya itu.

Jadi jelas sekali bahwa Tuhan itu sangat mengasihi manusia, tetapi kita yang sering mengabaikan bahkan menolaknya, padahal semuanya diberikan Tuhan secara cuma-cuma. Di sisi lain, bila kita menghadapi masalah, hal tersebut bukan berasal dari Tuhan tetapi karena kesalahan kita sendiri atau karena godaan dari setan. Karena itu marilah kita bertobat saat ini juga sebelum terlambat. Amin!